kursi empuk itu bernama parlemen

Pemilihan umum sebagai sarana demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat telah selesai. Saat ini bangsa kita akan mengahadapi hajatan besar berikutnya yaitu memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009 yang akan datang. Tetapi pada kesempatan ini, saya tidak ingin membahas hiruk pikuk pilpres, biarlah nanti anda dan rakyat yang menentukan siapa yang layak anda pilih untuk membawa nasib bangsa lima tahun kedepan. Yang pasti, kesalahan dalam menentukan pilihan akan membawa konsekwensi yang logis dalam pengertian negatif akan keadaan bangsa dan rakyat Indonesia lima tahun yang akan datang. Melalui artikel ini saya akan coba mengulas tugas pokok dan fungsi wakil rakyat (anggota parlemen) yang ...

banyak dikejar anak-anak bangsa, sehingga pada pemilu yang lalu tidak sedikit di antara mereka yang berbondong-bondong mendaftarkan dirinya menjadi caleg. Walaupun kemudian pada akhirnya, kita ketahui banyak masalah yang timbul setelah pemilu selesai. Ekspos media cetak dan elektronik memberi informasi pada kita bahwa ada caleg yang stress, strook, gila bahkan meninggal karena perolehan suaranya tidak seperti apa yang diharapkan, tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkannya. Beberapa waktu yang lalu, dalam rapat plenonya, KPU pusat telah menyelesaikan tugas konstitusionalnya melakukan rekap perhitungan suara partai-partai politik peserta pemilu, sekaligus menetapkan perolehan kursi masing-masing partai di parlemen. Hasil ini tentu saja merupakan kabar baik bagi yang terpilih, sekaligus menjadi kabar buruk bagi sebagian calon yang tidak dipercaya rakyat mewakili mereka. Bagi yang terpilih, adalah awal yang baik dimana mereka harus mempersiapkan diri dengan baik pula untuk mengemban amanah membawa aspirasi rakyat lima tahun kedepan yang selama ini buntu yang kadang kita tidak ketahui dimana sumbatannya.

Wakil rakyat atau yang selama ini akrab kita sebut anggota DPR, sesungguhnya adalah sebuah profesi yang sangat mulia, dimana seseorang yang berpredikat wakil rakyat mempunyai tugas mengemban amanah sekaligus menyampaikan apa yang menjadi keinginan rakyat yang diwakilinya kepada pemerintah untuk kesejahteraan mereka. Karena begitu mulianya tugas ini, sejatinya, pribadi yang seharusnya menjadi wakil rakyat seharusnya mereka yang juga benar-benar mengerti apa sesungguhnya keinginan rakyat, memiliki kedekatan dan mengerti masalah-masalah kerakyatan. Bukan mereka yang sekedar mengejar prestise sebuah jabatan, atau sekedar ingin disebut sebagai yang terhormat.

Dalam konstitusi kita, beberapa tugas pokok dan fungsi parlemen yang kemudian dijabarkan dalam bentuk hak adalah hak pengawasan, bersama pemerintah membuat Undang-Undang yang biasa disebut hak legislasi, dan hak budget atau hak anggaran. Dari ketiga tupoksi ini, esensi sebenarnya terletak pada sejauh mana parlemen mampu menyerap aspirasi rakyat, kemudian menjembatani keinginan dan kehendak rakyat tersebut untuk disampaikan kepada pemerintah sebagai eksekutif (pelasana). Selanjutnya, kebijakan pemerintah sebagai implementasi keinginan dan kehendak rakyat itu kemudian diawasi pelaksanaanya, sehingga hasilnya nanti benar-benar membawa dampak yang positif terhadap kesejahteraan rakyat.

Namun dalam kenyataannya, justru kita temukan terjadi distorsi, dimana para wakil rakyat ini tidak lagi berperan sebagaimana mestinya. Yang nampak di depan mata kita adalah, sebagian besar mereka menjadikan jabatan ini sebagai prestise yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Kompromi-kompromi politik yang dilakukan sebagian besar bermuara pada interest pribadi dan partai, sehingga yang menonjol dari ketiga tugas pokok dan fungsi tadi hanyalah hak budget (anggaran). Ujung-ujungnya tentu saja rakyat makin menderita dan makin sejahteralah mereka. Beberapa kasus yang terjadi di DPR, seperti misalnya kasus BLBI yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya, tertangkap tangannya sebagian anggota DPR melakukan korupsi dengan indikasi suap dan pemerasan terhadap pejabat-pejabat daerah, mafia anggaran dan calo proyek, dan masih banyak lagi kasus lain, menunjukkan kepada kita betapa profesi mulia ini telah bergeser tujuannya.

Jika sandiwara seperti ini yang sering kita lihat dipertontonkan para anggota DPR itu, masih layakkah mereka disebut sebagai wakil rakyat?, jawabannya tentu saja tidak . Lalu mengapa banyak diantara kita yang berlomba-lomba ingin menjadi anggota parlemen, bahkan rela mengeluarkan cost politik yang begitu mahal untuk meraih jabatan itu?. Dari sini sebenarnya sudah dapat diukur, apa sebenarnya tujuan sebagian besar dari orang-orang yang selama ini tidak memiliki latar belakang politik berbondong-bondong ingin menjadi "wakil rakyat". Apalagi kalau bukan karena prestise dan kursi empuk itu. Dengan demikian, dapat pula disimpulkan bahwa, pantas saja kehidupan rakyat dari periode ke priode tidak terjadi perubahan yang signifikan, bahkan mungkin dikatakan menurun. Mengapa?, karena sebagian besar wakil rakyatnya berangkat dari niat dan kepentingan yang berbeda-beda dan tidak sepenuhnya ingin mengabdi pada rakyat. Tentu dengan dengan tidak menafikan mereka yang benar-benar tulus ingin berjuang untuk kesejahteraan rakyat.

Baca juga artikel berikut :



6 komentar:

Lina mengatakan...

Mereka ngerebutin kursi, padahal amanah yg mereka emban itu besar banget. Sebenarnya apa yg mereka cari ya?? Huft...!!!

badrun mengatakan...

semoga saja mereka tetap konsisten dengan JANJI-JANJINYA

Ari mengatakan...

Wah yang di DPR sekarang bukan wakil Rakyat. Mereka wakil Partai.

Lihat saja semua hasil yang mereka Godok di Senayan, tentang UU ITE, PORNOGRAFI dan yang lain, itu bukan suara Rakyat.

Ketika KPK menerjang badai, suara Rakyat mendukung tetap maju. DPR justru menahan, karena takut ada yang diseret dari salah satu mereka

Opsirakyat Jangan disebut DPR, tapi DPP Dewan Perwakilan Partai.

Inspirasi Ku mengatakan...

malam2 enak minum kopi di temani dengan ubi rebus,
saat ini saya mapir untuk meliha postingan yang bagus ini!
wah ngeri jg tu!

enak g' ya duduk dikursi yang hitam itu?

diharapkan kunjungan kembali!!!!!

Gil Nocturne, Gillian shie mengatakan...

hahahah, bener banget....


enak banget ya bisa jadi anggota parlemen, pantes banyak yang stress gara2 kalah dlm pemilu...


^^

mata jendela dunia mengatakan...

biasanya kalo suda duduk di kursi ini menjadi lupa ama yang tidak duduk....

Copyright © 2009 - ekspresi ikhwan - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template